kukreat

Loading...

Jumat, 17 Desember 2010

makalah menyimak

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk individu dan makhluk social yang tidak bisa terlepas dari manusia lainnya. Dalam kehidupan semacam inilah terjadi interaksi dan komunikasi baik dengan alam lingkungan dengan sesamanya maupun dengan Tuhannya.
Dalam proses interaksi dan komunikasi diperlukan keterampilan berbahasa aktif, kreatif, produktif dan apresiatif yang mana salah satu unsurnya adalah keterampilan menyimak yang bertujuan untuk menangkap dan memahami pesan ide serta gagasan yang terdapat pada materi atau bahasa simakan.
Menyimak merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Setiap hari kita mendengar orang berbicara, baik langsung maupun melalui media elektronik. Dalam pengertian sempit berarti kita melakukan kegiatan menyimak yang mengacu pada proses mental pendengar menerima rangsang bunyi dari pembicara, kemudian menyusun penafsirannya. Dalam pengertian yang lebih luas, penyimak tidak hanya mengerti dan membuat penafsiran tentang pesan/materi yang disimaknya, lebih dari itu ia berusaha melakukan isi pesan yang disimaknya.
Meskipun menyimak itu penting dalam kehidupan sehari-hari, tetapi kurang mendapat perhatian di sekolah-sekolah di negara kita, bahkan di negara-negara yang telah maju. Penelitian yang telah dilakukan oleh Paul T. Rankin (1929 dalam Tarigan, 1980) terhadap 68 orang dari berbagai pekerjaan dan jabatan di Detroit sampai pada suatu kesimpulan bahwa mereka mempergunakan waktu untuk berkomunikasi: 9% menulis, 16% membaca, 30% berbicara, dan 45% menyimak. Pada waktu yang berbeda, Water Loban (dalam Tompkins & Kenneth, 1991) dalam penelitiannya terhadap anak-anak dan orang dewasa menyimpulkan adanya perbandingan bahwa mereka setiap hari menyimak satu buku, berbicara satu buku satu tahun, membaca satu buku satu bulan, dan menulis satu buku dalam satu tahun.
Untuk itu perlu dikembangangkan keterampilan dalam menyimak agar kemampuan menyimak seseorang baik dan ideal. Kegiatan menyimak beragam macamnya dan berbeda- beda tujuannya. Kita tidak bisa hanya menerapkan satu teori atau strategi saja untuk berbagai macam kegiatan menyimak yang mana tampilan atau gaya penyampaiannya juga bermacam- macam. Untuk bisa menjadi penyimak yang baik, kita harus tahu tujuan kita dalam menyimak dan macam- macam strategi dalam beragam kegiatan menyimak.

2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut :
a. Kategori menyimak berdasarkan maksud dan tujuan.
b. Ragam menyimak.
c. Faktor yang mempengaruhi proses menyimak.
d. Contoh kegiatan menyimak dan strateginya.
3. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
a. Menjelaskan kategori menyimak berdasarkan maksud dan tujuan.
b. Menjelaskan ragam menyimak.
c. Menjelaskan yang mempengaruhi proses menyimak.
d. Menunjukkan contoh kegiatan menyimak dan strateginya.










BAB II
PEMBAHASAN

A. Kategori Menyimak Berdasarkan Maksud dan Tujuan

Hakikat menyimak adalah menerima informasi dari pembicara dan menyusun atau menafsirkan maksud yang terkandung dalam bahan simakan serta mengapresiasikannya. Menyimak bisa dikategorikan berdasarkan maksud dan tujuannya.
Ruth G. Strickland mengemukakan 9 tahapan menyimak berdasarkan pengamatannya terhadap para siswa sekolah dasar dan Anderson (1972 dalam Tarigan, 1980:29) mewujudkannya sebagai kategori penyimak berdasarkan maksud dan tujuan, yaitu :
1. Menyimak berkala, terjadi pada saat penyimak merasakan keterlibatan langsung dalam pembicaraan mengenai dirinya.
2. Menyimak dengan perhatian dangkal, terjadi pada saat penyimak mendapat gangguan/selingan-selingan perhatian terhadap hal-hal di luar pembicaraan.
3. Setengah menyimak, terjadi pada saat penyimak terganggu oleh kegiatan menunggu kesempatan atau mengekpresikan isi hati, mengutarakan apa yang terpendam di dalam hatinya.
4. Menyimak serapan, terjadi karena penyimak asyik menyerap atau memperhatikan ha-hal yang kurang penting.
5. Menyimak sekali-sekali, terjadi karena penyimak hanya memperhatikan dan menyimpan perkataan pembicara yang menarik hatinya saja.
6. Menyimak asosiatif, terjadi karena penyimak hanya mengingat pengalaman-pengalaman pribadi secara konstan yang mengakibatkan ia tidak memberikan reaksi terhadap pesan yang disampaikan pembicara.
7. Menyimak dengan reaksi berkala, terhadap pembicara dengan memberi komentar ataupun mengajukan pertanyaan.
8. Menyimak secara saksama, dengan sungguh-sungguh mengikuti jalan pikiran pembicara.
9. Menyimak secara aktif, untuk mendapatkan dan menemukan pikiran, pendapat, dan gagasan pembicara.

Perbedaan tahap-tahap menyimak itu mencerminkan perbedaan tingkat keterlibatan seseorang terhadap isi pembicaraan seorang pembicara.Semakin seseorang terlibat jauh dalam proses menyimak maka semakin besar pula bahan simakan yang didapat dan semakin besar konsentrasi seseorang dalam menyimak maka pemahaman terhadap bahan simakan juga semakin jelas.

B. Ragam Menyimak
Tujuan menyimak adalah memperoleh informasi, menangkap isi, dan memahami makna komunikasi yang hendak disampaikan oleh pembicara melalui ujaran. Tujuan itu menyebabkan adanya aneka ragam menyimak. Para ahli komunikasi (dalam Tompkins & Kenneth, 1991:109) memetakan 5 tujuan menyimak yang lebih khusus, yaitu :
1. Menyimak diskriminatif,
Menyimak diskriminatif dilakukan untuk menyimak suara-suara yang berbeda dan mengembangkan daya sensitif dalam komunikasi nonverbal, seperti menyimak suara binatang pada anak-anak di playgroup atau taman kanak-kanak.
2. Menyimak komprehensif,
Menyimak komprehensif dilakukan untuk memahami pesan yang sampaikan oleh pembicara. Ini merupakan menyimak umum secara intensif. Bahkan, menyimak komprehensif merupakan menyimak yang utama dikembangkan di sekolah-sekolah, selain menyimak kritis dan menyimak apresiatif
3. Menyimak kritis,
Menyimak kritis adalah menyimak untuk mengevaluasi pesan yang merupakan kelanjutan menyimak komprehensif
4. Menyimak apresiatif,
Menyimak apresiatif adalah menyimak pembicaraan atau pembacaan untuk mendapat kenikmatan.
5. Menyimak terapeutik.
Menyimak terapeutik adalah menyimak untuk memperbaiki suatu masalah,
Selain itu, Nurhadi (1995:339) mengemukakan ragam menyimak yang lebih utama dikembangkan di sekolah, yaitu:
1. Menyimak hati-hati atau careful listening, yaitu kemampuan memperhatikan ide-ide utama yang disampaikan oleh pembicara
2. Menyimak kritis atau critical listening, yaitu mempertanyakan menguji kebenaran apa yang disimak, untuk kemudian penyimak menolak atau menerima ide yang didengarnya;
3. Menyimak perseptif atau perseptive listening, yaitu menyadari dan memahami apa yang dikatakan pembicara, meskipun tidak jelas apa yang disampaikannya;
4. Menyimak kreatif atau creative listening, yaitu menggunakan pemikiran, menilai apa yang disimak, dan membuat kreasi terhadap hasil simakan. Misalnya memberi kritik dan saran, mengulas, atau mengomentari melalui media massa.
Keempat ragam menyimak tersebut dikemukakan dengan maksud untuk kepentingan pembelajar/siswa mengetahui tingkatan kemampuan menyimaknya sehingga ketika mereka menjadi pendengar, mereka akan menjadi pendengar yang kritis. Penyimak yang kritis akan mampu menangkap dan memahami simakan dengan sempurna. Dengan demikian penyimak akan mampu mengembangkan hasil simakannya tersebut dan membandingkannya dengan hal lain yang terkait.


C. Faktor yang Mempengaruhi Proses Menyimak

Dalam proses menyimak kita juga dipengruhi oleh factor- factor. Factor- factor itulah yang menunjang baik tidaknya kemampuan menyimak kita. Faktor-faktor yang turut mempengaruhi proses menyimak dan perlu diperhatikan dalam menyajikan materi menyimak sehingga proses menyimak berhasil dengan baik, yaitu:
1. Kejelasan pesan dari pembicara;
2. Bahasa yang digunakan
3. Alat dengar penyimak;
4. Suasana kejiwaan pembicara dan penyimak;
5. Gangguan dari luar, seperti kebisingan dan keributan.
Selain hal diatas, ada beberapa hal yang disarankan untuk menunjang keberhasilan pembelajaran menyimak dan menyimak dalam pembelajaran lainnya, yaitu:
1. Tujuan menyimak;
2. Kecepatan menyajikannya;
3. Tingkat kesulitan bahasa sesuai dengan tingkat kemampuan berbahasa siswa;
4. Topik harus sesuai dengan minat siswa;
5. Topik menyimak harus berganti-ganti.

D. Contoh Kegiatan Menyimak dan Strateginya
Dalam proses pembelajaran menyimak terdapat standar kompetensi tertentu yang digunakan sebagai acuan dalam pembelajaran. Oleh karena itu peserta didik diharapkan bisa menguasai apa yang ditargetkan. Agar dapat menguasai bahan simakan tersebut penyimak harus mempunyai strategi dalam menyimak. Kita ketahui bahan simakan itu berbagai macam jenisnya sehingga strategi yang kita gunakan juga harus berbeda guna mempermudah pemahaman kita terhadap apa yang disampaikan. Dengan begitu meraka nantinya dapat menjadi penyimak yang baik. Ada beberapa contoh kegiatan menyimak sesuai dengan macam penyajiannya dan strateginya dalam menyimak.
1. Menyimak Berita (dari radio/ televisi)
Menyimak berita adalah jenis menyimak intensif yang diarahkan pada kegiatan yang diawasi dan dikontrol terhadap suatu hal tertentu. Tujuan menyimak berita adalah:
a. Menemukan pokok-pokok berita (apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana) yang didengar/disimak melalui radio/televise
b. Menyimpulkan isi berita yang dibacakan oleh pembaca berita
c. Mengemukakan kembali berita yang didengar/disimak melalui radio/televisi.
Menyimak berita dengan tujuan tersebut termasuk jenis menyimak komprehensif. Penyimak hendaknya mengetahui apa pesan yang sebenarnya hendak disimak.
Cara menemukan pokok-pokok berita, di antaranya:
a. Mengidentifikasi berita-berita utama dari berita-berita yang dibacakan. Untuk mengidentifikasi berita utama dari seluruh berita yang dibacakan, penyimak harus tahu atau tanggap pada posisi mana si pembaca berita meletakkan penekanan atau berita utama. Umumnya, berita utama diletakkan setelah pendahuluan alinea, dinyatakan secara singkat, diulas kembali di sepanjang berita (biasanya pembaca berita mengulang- ulang konsep penting), kemudian dinyatakan kembali dalam kesimpulan (penutup). Berita utama juga dapat diidentifikasi dari perubahan perilaku non-verbal pembaca berita ketika membacakan berita utama, misalnya perubahan volume suara, jeda pembacaan, mimik, pandangan mata, dan petunjuk-petunjuk non-verbal lainnya.
b. Menggunakan kata tanya 5W 1H untuk melacak kelengkapan isi berita. Kata tanya 5W 1H (who, what, when, where, why, dan how = siapa, apa, kapan, di mana, mengapa, bagaimana) dapat membantu melacak kelengkapan isi berita. Selain itu, kata itu dapat membatasi/memfokuskan perhatian penyimak agar tidak terlalu meluas atau menyempit. Dengan cara tersebut, pokok-pokok berita dapat ditemukan dengan efektif oleh penyimak berita. Kemampuan lain yang perlu dimiliki olah penyimak berita (komprehensif) adalah menyimpulkan isi berita yang didengar/disimak. Kesimpulan adalah data yang tidak disampaikan dalam berita, tetapi hanya diimplikasikan saja. Kesimpulan adalah hasil penafsiran murni dari penyimak terhadap berita yang didengarnya. Karena itu, penyimak berita yang baik harus dapat menyimak gagasan utama maupun rinciannya secara eksplisit maupun implisit. Mengemukakan kembali isi berita yang didengar/disimak dari radio atau televisi merupakan salah satu cara untuk mengetahui apakah penyimak telah menyimak dengan efektif dan komprehensif atau tidak. Catatan garis besar dengan 5W 1H dapat membantu penyimak mengungkapkan kembali isi berita yang didengar/disimak secara sistematis.

2. Menyimak wawancara
Menyimak wawancara termasuk salah satu jenis menyimak pemahaman/ komprehensif (comprehensive listening), yaitu menyimak untuk memahami isi pesan yang disampaikan para tokoh atau narasumber dalam sebuah wawancara. Tujuan menyimak wawancara adalah:
a. Menyimpulkan pikiran, pendapat, dan gagasan seorang tokoh/narasumber yang disampaikan dalam wawancara;
b. Menulis dengan singkat hal-hal penting yang dikemukakan nara sumber dalam wawancara.
Strategi yang dapat digunakan dalam menyimak wawancara kepada tokoh atau narasumber, antara lain: menggambar dalam pikiran (membayangkan), mengelompokkan informasi, mengajukan pertanyaan, membuat skema, mencatat isi pembicaraan, dan memperhatikan perilaku nonverbal pembicara.
Strategi 1: Menggambar dalam pikiran (membayangkan)
Penyimak/siswa dapat menggambar secara mental informasi yang disimak untuk membantu ingatannya. Strategi ini terutama digunakan ketika wawancara tentang gambaran suatu objek tempo dulu yang memerlukan gambaran yang lengkap dan terperinci atau deskripsi suatu benda/kata, misalnya gubernur masa depan sehingga penyimak dapat ‘santai’ dalam wawancara. Gambar yang dibuat bergantung pada kreativitas penyimak.
Strategi 2: Mengelompokkan informasi.
Penyimak/siswa dapat mengelompokan pesan/informasi yang ditangkap menjadi sebuah kelompok-kelompok (cluster) ketika pesan berisi beberapa informasi, pembandingan, atau perlawanan. Misalnya, wawancara perbedaan binatang reptil dan amphibi. Penyimak/siswa menyiapkan dua kolom pada catatan. Satu kolom dituliskan reptil dan kolom lainnya dituliskan amphibi. Kemudian penyimak mencatat informasi/hal-hal yang penting dari wawancara kepada tokoh/narasumber tentang perbedaan dua binatang itu pada kolom-kolom yang telah disiapkan. Akhirnya, penyimak dapat menyimpulkan pikiran, pendapat, atau gagasan tokoh/narasumber tentang kedua binatang itu.
Strategi 3: Mengajukan pertanyaan
Penyimak/siswa dapat mengajukan pertanyaan untuk meningkatkan pemahamannya terhadap pesan pembicara. Dua tipe pertanyaan yang sangat membantu penyimak adalah pertanyaan yang ditujukan kepada pembicara untuk mengklarifikasi dan pertanyaan ditujukan kepada diri sendiri untuk memonitor penyimakan dan pemahamannya. Umumnya pertanyaan ditujukan kepada pembicara. Namun, perlu dikembangkan pertanyaan untuk diri sendiri, seperti berikut.
Mengapa saya bertanya tentang itu?
Apakah saya bisa memahami maksud pesan itu?
Untuk apa informasi itu bagi saya?
Strategi 4: Membuat skema.
Pembicara umumnya menggunakan tipe yang sama untuk mengorganisasikan struktur sebuah pesan, yaitu deskripsi (description), urutan (sequence), pembandingan (comparison), sebab-akibat (cause and effect), dan masalah dan solusi (problem and solution)
Strategi 5: Catatan isi pembicaraan.
Penyimak/siswa mencatat hal-hal penting yang dikemukakan tokoh/narasumber dalam wawancara atau “responding-with-pen-in-hand”. Strategi ini membantu dalam menyimak, terutama penyimak pemula.
Strategi 6: Memperhatikan gerak-gerik/non-verbal pembicara.
Pembicara selalu menggunakan petunjuk verbal dan nonverbal. Petunjuk non-verbal/visual, seperti gestur/gerak anggota tubuh, penekanan (suara), jeda, menulis atau menggarisbawahi hal-hal yang penting, dan perubahan mimik saat berbicara. Penyimak yang baik memperhatikan petunjuk non-verbal itu sehingga dapat menemukan ha-hal yang penting dan menyimpulkan pendapat atau pikiran pembicara.
3. Menyimak Dialog Interaktif
Menyimak dialog interaktif adalah menyimak percakapan dari berbagai arah. Pembicara dalam dialog itu lebih dari dua orang. Para pembicara berbicara mengikuti aturan secara berganti-ganti yang diatur oleh seorang pemandu atau moderator. Tujuan menyimak dialog interaktif adalah:
a. Menyimpulkan isi dialog interaktif beberapa nara sumber pada tayangan televisi/siaran radio;
b. Mengomentari pendapat narasumber dalam dialog intaraktif pada tayangan televisi/siaran radio.
Untuk dapat menyimpulkan isi dialog beberapa narasumber, penyimak melakukan menyimak pemahaman dengan strategi seperti dalam menyimak wawancara. Kemudian penyimak menyimak kritis untuk dapat mengomentari pendapat nara sumber dalam dialog.
Menyimak kritis yaitu menyimak untuk mengevaluasi atau menemukan kekurangan, kesalahan atau kekeliruan atau butir-butir pesan yang tidak baik dan benar dari pembicara. Menyimak kritis dilakukan ketika seseorang menyimak debat, iklan komersial, pernyataan- pernyataan politis, pernyataan-pernyataan filosofis, dan argumen-argumen yang lain. Kegiatan-kegiatan yang tercakup dalam menyimak kritis adalah:
1. Memperhatikan bahasa yang digunakan oleh pembicara, seperti pilihan kata, pemakaian kata, unsur-unsur kalimat, dan kalimat efektif
2. Menentukan alasan ‘mengapa’
3. Mengenal dan menentukan pengaruh-pengaruh berbagai alat yang mungkin dipakai oleh pembicara untuk mempengaruhi penyimak, misalnya: (a) musik, (b) sarat kata-kata yang tidak penting, (c) intonasi suara, (d) permainan isue emosional dan kontroversial, serta (e) propaganda;
4. Membedakan fakta dari fantasi/khayalan menurut kriteria tertentu;
5. Membedakan pernyataan-pernyataan yang didukung dengan bukti-bukti yang tepat dari opini dan pendapat dan mengevaluasinya;
6. Memeriksa, membandingkan, mengkontraskan gagasan dan menyimpulkan pembicaraan, misalnya mengenai ketepatan dan kesesuaian suatu deskripsi
7. Menemukan jawaban bagi masalah tertentu;
8. Menentukan informasi baru/informasi tambahan untuk suatu topik;
9. Menafsirkan, mengintepretasi ungkapan, idiom, dan bahasa yang belum lazim dipakai; kata atau frasa yang halus untuk menyamarkan keadaan nyatanya (eufemisme), jargon untuk kelompok tertentu.
10. Bertindak objektif dan evaluatif untuk menentukan keaslian, kebenaran, atau adanya prasangka, kecerobohan, kekurangtelitian, dan kekeliruan (Anderson dalam Tarigan, 1980:43; Tompkins & Kenneth, 1991:120-123).
4. Menyimak Laporan
Menyimak laporan dilakukan dengan menyimak komprehensif dan menyimak kritis. Menyimak komprehensif dilakukan untuk memahami informasi/pesan/isi laporan yang diujarkan oleh pembicara atau reporter. Kemudian dilakukan menyimak kritis untuk menganalisis isi laporan dan menanggapi isinya.
Tujuan menyimak laporan adalah:
a. Menganalisis isi laporan
b. Menanggapi isinya.
Laporan yang menjadi bahan simakan dapat berupa laporan resmi (official reports) atau laporan khusus (special reports). Laporan resmi dapat diterima dan disetujui oleh pihak yang dilapori setelah tidak ada keberatan-keberatan yang timbul. Adapun laporan khusus tidak memerlukan prosedur pengajuan keberatan dan persetujuan. Karena itu, penyimak laporan resmi perlu menyimak kritis untuk dapat mengajukan kebertan dan persetujuan.
Strategi menyimak laporan dapat menggunakan strategi menyimak wawancara/ komprehensif untuk memahami isi laporan dan menyimak dialog interaktif/menyimak kritis untuk menganalisis dan menanggapi isinya.
5. Menyimak Isi Pidato/ Khotbah/ Ceramah
Berpidato, berkhotbah, dan berceramah merupakan keterampilan berbicara bebas. Teks pidato, khotbah, dan ceramah sebagai wahana penuangan ide gagasan hendaknya telah diolah melalui berpikir kritis dan sistematis sehingga diharapkan mengandung kebenaran yang tidak hanya berdasarkan rasio, tetapi juga dapat dibuktikan secara empirik. Berpidato, berkhotbah, dan berceramah hendanya menggunakan bahasa formal atau resmi sesuai dengan kaidahnya sehingga penyimak dapat memahami pesan yang disampaikan. Berdasarkan hal itu, menyimak isi pidato, khotbah, dan ceramah memerlukan keterampilan menyimak komprehensif untuk dapat memahami isi pesan dan menyimpulkannya. Selain itu, penyimak perlu menyimak kritis agar dapat mengomentari isi pidato dan ceramah yang disimak.
Tujuan menyimak isi pidato, khotbah, dan ceramah yaitu:
a. Menyimpulkan pesan pidato/khotbah/ceramah yang didengar;
b. Mengomentari isi pidato/khotbah/ceramah.
Menyimak isi pidato, khotbah, dan ceramah dapat menggunakan strategi menyimak komprehensif seperti yang digunakan dalam menyimak wawancara untuk dapat memahami dan menyimpulkan isinya. Untuk dapat mengomentari isi, penyimak dapat menggunakan strategi menyimak kritis seperti yang digunakan pada menyimak wawancara. Lebih dari itu, seorang penyimak yang kritis oleh Ahmadi (1990:17) disarankan dapat:
a. Mengevaluasi kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh pembicara, seperti (1) kontradisksi diri sendiri, (2) generalisasi yang tergesa-gesa, (3) analogi yang salah, dan (4) gagal dalam menyajikan contoh;
b. Mengevaluasi niat dan tujuan pembicara dengan secara implisit mengajukan pertanyaan: (1) siapakah yang berkata itu, (2) mengapa ia berkata demikian, (3) apa tujuannya, dan (4) apakah kewenangannya berkata begitu?
Berbagai jenis keterampilan menyimak yang meliputi menyimak wacana berita, menyimak wawancara, menyimak dialog interaktif, meyimak laporan, dan meyimak isi pidato, khotbah, ceramah dari media elektronik radio atau televisi merupakan ragam menyimak komprehensif dan menyimak kritis. Keduanya merupakan keterampilan menyimak yang penting dan bermakna bagi siswa dalam pembelajaran di sekolah maupun di masyarakat.
























BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan :
• Menyimak dapat dikategorikan berdasarkan maksud dan tujuan, antara lain : menyimak berkala, menyimak dangkal, setengah menyimak, menyimak serapan, menyimak asosiatif, dan lain- lain.
• Kegiatan menyimak juga beragam, yaitu: menyimak diskriminatif, menyimak komprehensif, menyimak kritis, menyimak apresiatif, dan menyimak terapeutik.
• Menyimak dipengaruhi oleh faktor- factor yaitu factor dari pembicara, bahan simakan, dan lingkungan.
• Macam kegiatan menyimak yaitu menyimak berita (dari radio/ televisi), menyimak wawancara, menyimak dialog interaktif, menyimak laporan, dan menyimak isi pidato/ khotbah/ ceramah.
B. Saran
• Dalam menyimak kita harus mempunyai maksud dan tujuan kita menyimak karena kegiatan menyimak itu bermacam- macam.
• Saat kita melakukan kegiatan menyimak, kita harus memperhatikan factor- factor dalam menyimak.
• Kita harus memperhatikan penyampaiaan seperti apa yang digunakan oleh pembicara dalam menyimak sehingga kita tahu strategi yang harus kita gunakan.




BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi,Mukhsin.1990.Strategi Belajar-Mengajar Keterampilan Berbahasa dan
Apresiasi Sastra. Malang: Y A 3.
Tarigan,Henry Guntur.1980. Menyimak sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.
Bandung:Angkasa.
Tompkins, Gail E. & Kenneth Hoskisson. 1991. Language Art, Content and
Teaching Strategies.New York:Macmillan.
Nurhadi. 1995. Tata Bahasa Pendidikan, Landasan Penyusunan Buku Pelajaran
Bahasa.Semarang:IKIP Semarang Press.











KETERAMPILAN MENYIMAK

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata kuliah Menyimak
Dosen pengampu: Ibu Deby Luriawati N.

Oleh :
Nama : Gigih Wahyu Wijayanti
NIM : 2101410057
Prodi : PBSI
ROMBEL 2

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2010
KATA PENGANTAR

Alhamdulilah puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena rahmat dan hidayah-NYA karya sederhana tentang keterampilan menyimak ini terselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Karya yang berjudul Keterampilan Menyimak ini disusun untuk memenuhi tugas semester satu tahun ajaran 2010 mata kuliah Menyimak.
Keseluruhan isi dari karya ini menyajikan materi- materi pembelanjaran tentang menyimak. Setiap pokok bahasan dalam karya ini, penyusun tujukan kepada Ibu Deby sebagai dosen Pengampu mata kuliah Menyimak dan untuk para pembaca semoga bermanfaat untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.
Pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada Ibu Deby selaku dosen pengampu yang telah memberi kepercayaan kepada penyusun untuk menyelesaikan tugas ini. Begitu pula berbagai pihak yang membantu kelancaran terselesaikannya tugas ini.
Permohonan maaf penyusun sampaikan jika dari isi karya ini ada yang tidak sesuai atau tidak berkenan bagi pembaca. Penyusun berharap karya ini bermanfaat bagi pembaca.
Terima Kasih.


Semarang, November 2010

Penyusun

Jumat, 03 Desember 2010

CONTOH - CONTOH PUISI

CONTOH- CONTOH PUISI

1. PUISI LAMA
Contoh:

A. MANTRA
1) Assalammu’alaikum putri satulung besar
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu
(anonim)

2)Muka musam berbasuh air
Aku niat menghadap tuhan
Berdiri tegak aku menghadap
Melawan hawa rasa yang sesat
Bismillah
Awal aku berucap
Padamu aku berserah
(Gigih W.W )

3)Aku memelas pada tuan
Menghamba berdoa
Menengadah mohon ampun
Doa beralun
Putri bertabur kembang
Aku mendengar kata
Aku berasa ke alam fana
Membawa putra putri paduka
(Gigih W.W)

B. GURINDAM

1)Kurang pikir kurang siasat
Tentu dirimu akan tersesat
(anonim)



2)Banyak amal banyak bersyukur
Niscaya jiwa dan raga makmur
(Gigih W.W)

3)Jauhi haram hindari riba
Pasti hidupmu akan bahagia
(Gigih W.W)

C. SYAIR

1)Pada zaman dahulu kala
Tersebutlah sebuah cerita
Sebuah negeri yang aman sentosa
Dipimpin sang raja nan bijaksana
Negeri bernama Pasir Luhur
Tanahnya luas lagi subur
Rakyat teratur hidupnya makmur
Rukun raharja tiada terukur

Raja bernama Darmalaksana
Tampan rupawan elok parasnya
Adil dan jujur penuh wibawa
Gagah perkasa tiada tandingnya
(anonim)

2)Dipadang pasir yang tandus
Seekor unta mendengus
Tubuhnya terlihat kurus
Merasa lapar dan haus
Seekor burung menyapa
Melihat unta penuh iba
Sungguh malang nasib si unta
Tuk berdiri tiada kuasa
(Gigih W.W)

3)Seorang tua memberi nasehat
Untuk anak agar taat
Bertindak sesuai syariat
Agar hidup bermanfaat
Nasihat tentang agama
Untuk hidup didunia
Menjalin hubungan antar sesama
Agar bahagia dan sejahtera
Membuat keluarga bahagia
Dengan semua nikmat yang ada
Yang penuh canda tawa
Mensyukuri hadiah pencipta
(Gigih W.W)

D. PANTUN

1)Ada pepaya ada mentimun
Ada mangga ada salak
Daripada duduk melamun
Mari kita membaca sajak
(anonim)


Macam-macam Pantun

Dilihat dari bentuknya :

a) Pantun biasa/ saja
•Kalau ada jarum patah
Jangan dimasukkan kedalam hati
Kalau ada kataku salah
Jangan dimasukkan kedalam hati
(anonim)

•Pergi berlibur kepulau Bali
Berkunjung ketanjung benoa
Rajinlah dirimu mengaji
Agar kelak masuk surga
(Gigih W.W)

•Bangun tidur diwaktu fajar
Tidur kembali sampai siang
Jika kamu anak pintar
Buktikan pada semua orang
(Gigih W.W)

b) Seloka
•Lurus jalan ke Payakumbuh,
Kayu jati bertimbal jalan
Di mana hati tak kan rusuh,
Ibu mati bapak berjalan
Kayu jati bertimbal jalan,
Turun angin patahlah dahan
Ibu mati bapak berjalan,
Ke mana untung diserahkan
(anonim)

•Menghitung mundur pohon jati
Jatuh tersandung kayu nangka
Dirimu menarik hati
Karena parasmu cantik jelita
Jatuh tersandung kayu nangka
Kaki luka berlumur darah
Karena parasmu cantik jelita
Dirimu hadir membawa anugrah
( Gigih W.W)

•Berlayar menyeberangi pulau
Beriringan deburan ombak
Sungguh hebat ilmu beliau
Karang pecah tanpa ditembak
Beriringan deburan ombak
Meliak liuk tubuh diperahu
Karang pecah tanpa ditembak
Karena terhantam ombak selalu
(Gigih W.W)

c) Talibun
•Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak pun beli sampiran
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanak pun cari isi
Induk semang cari dahulu
(anonim)

•Menari- nari diatas awan
Berseluncur juga di awak pelangi
Bertabur ribuan bintang
Kita hendak berkawan
Saling membantu sepenuh hati
Bergurau tertawa tak ada ikatan
(Gigih W.W))

•Pergi kepasar unuk belanja
Membeli lukisan berwarna merah
Merah- merah, merah delima
Mari kawan bersuka ria
Tidak ada uang tidak masalah
Yang penting kita bahagia
(Gigih W.W)

d) Pantun Kilat
•Dahulu parang, sekarang besi
Dahulu sayang sekarang benci
(anonim)
•Menanam bunga di halaman belakang
Karena kusuka maka kusayang
(Gigih W.W)
•Buah nanas sayur bayam
Perut lapar ingin makan
(Gigih W.W)

Dilihat dari isinya :
a) Pantun anak-anak
•Elok rupanya si kumbang jati
Dibawa itik pulang petang
Tidak terkata besar hati
Melihat ibu sudah datang
(anonim)

•Pohon mangga berbuah lebih
Manis bunganya disukai kumbang
Jadilah anak yang sholih
Rajin mengaji rajin sembayang
(Gigih W.W)

•Beli sepeda sudah butut
Saat rusak ingin dibuang
Jika kita mau menurut
Pasti ortu makin sayang
(Gigih W.W)

b) Pantun orang muda
•Tanam melati di rama-rama
Ubur-ubur sampingan dua
Sehidup semati kita bersama
Satu kubur kelak berdua
(anonim)

•Hari libur pulang pati
Naik bus bersama temanku
Cintaku padamu setulus hati
Semua kulakukan hanya untukmu
(Gigih W.W)

•Suara merdu bernyanyi lagu
Lagu romantis aril paterpan
Tawamu imut dan lucu
Membuatku jadi geregetan
(Gigih W.W)

c) Pantun orang tua
•Asam kandis asam gelugur
Kedua asam riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang
(anonim)

•Anak ayam turun lima
Berwarna kuning lucu- lucu
Ingat anak ingat usia
Jangan suka sawer melulu
(Gigih W.W)

•Penyanyi cantik bernama nikita
Suka lagu, lagu rindu
Jangan mabuk dan main wanita
Inagt anak istri menunggu
(Gigih W.W)

d) Pantun Jenaka
•Elok rupanya pohon belimbing
Tumbuh dekat pohon mangga
Elok rupanya berbini sumbing
Biar marah tertawa juga
(anonim)

•Bangun balok enam sisi
Jika diinjak jadinya peyok
Dari belakang terlihat sexy
Eh ternyata pipinya perot
(Gigih W.W)

•Mau mincing umpan gak punya
Cari umpan dapatnya cacing
Mata melotot mulut tertawa
Mendengar kuda beranak kucing
(Gigih W.W)




2. PUISI BARU

a) Destikon
•Berkali kita gagal
Ulangi lagi dan cari akal

Berkali-kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh
(Or. Mandank)

•Bila kata berbuah luka
Kuucap maaf mohon diterima

Bila sikap menoreh kecewa
Kuharap jangan masukkan jiwa
(Gigih W.W)

•Cinta sejati adalah sahabat
Yang menemani samai akhir hayat

Sahabat tak kan menyakiti
Walau badan tertusuk duri
(Gigih W.W)

b) Terzina
•Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana
Mengharum bagai cendana

Dalam bah’gia cinta tiba melayang
Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari
(Dari ; Madah Kelana Karya : Sanusi Pane)

•Kubuka cakrawala hati
Lewat pujangga yang bersyair
Seperti kata penuh misteri
Kubuka sepenuh jiwa
Laksana mekar kuncup sang bunga
Dan aku tersenyum disana
(Gigih W.W)

•Andai yang ku rasa
Kau terima
Dan semua ada maknanya
Tapi aku hilang
Terbang melayang
Dan kau tak kan pernah mengenang
(Gigih W.W)

c) Quartin
•Mendatang-datang jua
Kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau

Membayang rupa jua
Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)

•Langit yang mengintai
Lewat awan yang berlari
Ini hatiku yang terrangkai
Beralun melodi dan bernyanyi
Biarlah langit tertawa
Melihat sayup bahagia yang ku bawa
Biarlah pelangi cemburu
Meliht sejuta warna yang baru
Yang ku rangkai dalam hariku
Penuh tawa tanpa ragu
Dan aku tersenyum lepas
Untuk hidupku yang bebas
(Gigih W.W)

•Kupalingkan pandanganku
Bukan karena kuragu
Tapi aku hanya tak tahu
Bahwa ini menyakitiku
Seperti apapun itu yang terjadi
Begitulah aku yang harus sendiri
Andai itu bukan takdir
Semua ini tak kan jadi misteri
Aku hanyut dalam lantunan takdir
Yang membawaku ke sudut sepi
Seperti terpojok sendiri
Aku mengukir lara dihati ini
(Gigih W.W)



d) Quint
•Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakan

Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkan

Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)

•Bukankah ini ragaku
Ku persembahkan Kepadamu
Agar kau rawat
Bukan tuk kau beri luka
Karena aku wanita
Bukankah ini jiwaku
Kupersembahkan untukmu
Agar kau jaga
Bukan tuk kau buat lara
Karena aku wanita
Bukankah ini cintaku
Kupersembahkan hanya padamu
Agar kau simpan
Bukan untuk kau buang
Karena aku untukmu
(Gigih W.W)

•Bintang yang menerangimu
Mungkin bukan aku
Karena yang kutahu
Aku lilin kecil dihatimu
Tapi aku ingin ada digelap hidupmu
Bintang yang menjagamu
Mungkin bukan diri ini
Karena yang ku mengerti
Aku hanya seorang kurcaci
Tapi hati ini ingin disampingmu
Bintang yang menghiburmu
Mungkin bukan aku
Karena yang ku tahu
Aku hanya manusia malang
Tapi aku ingin selalu melihat senyummu
(Gigh W.W)

e) Sextet
•Merindu Bagia
Jika hari’lah tengah malam
Angin berhenti dari bernafas
Sukma jiwaku rasa tenggelam
Dalam laut tidak terwatas
Menangis hati diiris sedih
(Ipih)

•Ku biarkan anganku terbang
Sebisa mungkin tak lagi kuharap
Mungkin semua hanya maya
Tapi selalu kubiarkan semua beralun
Dalam raga
Tiada terbatas waktu
(Gigih W.W)

•Kau tak kan menyadari
Apa yang terukir dihati
Mungkin tak kan terbagi
Sekejap yang merangkai hari
Betapa lama aku menanti
Yang bisu itu yang aku mengerti
(Gigih W.W)

f) Septina
•Indonesia Tumpah Darahku
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
(Muhammad Yamin)

•Aku menuangkan harap asa
Dalam gelas pengharapan
Mengalir nafas impian
Yang mempercikkan beningnya angan
Bersama tangan
Yang ku gapai menemani
Merangkai mimpi melewati hari
(Gigih W.W)

• Kau
Mimpi yang memisteri hati
Tercermin dalam nurani
Mengusik naluri
Kau
Adalah nyawa
Yang menemani dalam jiwa
(Gigih W.W)

g) Stanza
• Awan
Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)

•Seperti apa itu dirimu
Yang selalu menganggu
Mengusik akal sehatku
Menerjang sendi logikaku
Seperti apa itu dirimu
Yang selalu mengusikku
Yang membuatku menunggu
Kau dalam waktu
(Gigih W.W)


•Kami berjalan merangkai makna
Menulis dalam lembar kehidupan
Yang kan ku ceritakan
Tentang kisah yang indah
T entang arti kisah kami
Yang tak kan mati
Tergerus nafas hari
Karena kami ada untuk selamanya
(Gigih W.W)

h) Sonata
•Gembala
Perasaan siapa ta ‘kan nyala
Melihat anak berelagu dendang
Seorang saja di tengah padang
Tiada berbaju buka kepala
Beginilah nasib anak gembala
Berteduh di bawah kayu nan rindang
Semenjak pagi meninggalkan kandang
Pulang ke rumah di senja kala
Jauh sedikit sesayup sampai
Terdengar olehku bunyi serunai
Melagukan alam nan molek permai
Wahai gembala di segara hijau
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau
Maulah aku menurutkan dikau
(Muhammad Yamin)

•Disini aku menangis
Sesuatu yang kusentuh itu
Terlepas dan membuatku sendu
Hal itu berawal manis
Disini aku merintih
Ada yang hilang dan pergi
Saat aku mulai membagi
Tapi kini aku tertarik
Andai tak terjadi
Dan waktu dating kembali
Tak kan ku biarkan pergi
Tapi semua tiada guna
Tetap dia berlalu jua
Membuat tenggelam dalam kecewa
(Gigih W.W)

•Kutatap langit yang berpelangi
Sendu merdu berubah menawan
Mewarnai senja penuh angan
Bersama angin sore yang mewangi
Begitu indah kutatap senja
Merantai waktu mengalun sendu
Indah dan membuatku terpadu
Bersama hembus yang menentramkan jiwa
Sejenak kurasa tenang
Waktu yang ku pandang
Membuatku melayang
Membuatku mengerti indahnya hidupku
Yang gelap berubah syahdu
Semoga tak berlalu sampai akhir waktu
(Gigih W.W)

3. PUISI PRISMATIS DAN PUISI DIAFAN
a) Puisi Prismatis
•Pada jam ke-24
Kota seperti kiamat
Sidney telah terkunci
Dalam gelas pagi
Ada bulan mengukur luas
Laut dan musik panas
Ada beton membendung bentuk
Dan hanya merunduk
(Goenawan Muhamad, 1979)
•Saat cinta sudah melekat
Bumi serasa berhenti berputar
Matahari tersenyum memancar
Bulan menari- nari kegirangan
Bintang- bintang bersautan menyanyi
Beriringan gemuruh air hujan
Membuat pohon- pohon serasa bergoyang
Dunia hanya terpaku melamun
Dan itu hanya untuk
Dua sejoli yang jatuh cinta
(Gigih W.W)

•Saat yang tabu jadi mutiara
Jiwa tak lagi bersandar pada raganya
Jin akan senantiasa menuntunnya
Tanpa kenal batas usia
Tua muda besar kecil tiada beda
Dan sebagai senjata para pujangga
Bersiaplah wahai manusia
Jika engkau memang manusia
Sebelum kata itu membentuk prosa
Dan rerumputan tak lagi menggoyangkan daunnya
Atau angin tak lagi membisikkan suaranya
Itulah kenyataan yang ada
(Gigih W.W)


b) Puisi Diafan
•Kami duduk berdua
Dibangku halaman rumahnya
Pada jambu dihalaman rumah itu
Berbuah dengan lebatnya
Dan kami senang memandangnya
Angin yang lewat
Memainkan daun yang berguguran
(Episode : WS.Rendra)

•Pagi itu kami berjalan bersama
Melewati jalan hitam yang berliku
Naik turun areanya
Terdapat pepohonan disepanjang jalan
Berbaris sungguh mempesona
Rapi dan indah
Burung- burung pun hinggap dirantingnya
Berkicau bersautan tambah merdunya
Menambah indahnya pagi tercinta
( Gigih W.W)

•Saat nanti kau kembali
Ku sambut dengan suka hati
Menepati apa yang aku janji
Dahulu saat kau masih disini
Kini kau telah mengerti
Aku disini selalu menanti
( Gigih W.W)

4. PUISI EPIK, DRAMATIK, DAN LIRIK

a) Puisi Epik
• Diponegoro
Dimasa pembangunan ini
Tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Didepan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya
Seratus kali
Pedang dikanan, keris dikiri
Berselempang semangat
Tak bisa mati
Maju
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu
Sekali berarti
Sudah itu mati
Maju
Bagimu negeri
Menyadiakan api
Punah diatas menghampa
Binasa diatas ditindas
Sesungguhnya jalan asal
Baru tercapai
Jika hidup harus merasa
Maju
Serbu
Serang
Terjang
(Chairil Amwar)

• Merdeka
Kata merdeka
Kita dapat dapat sejak berpuluh tahun lamanya
Kata yang tak sekadar kata
Karena keringat dan darah penghiasnya
Merdeka,
Saat merah dan putih
Bebas untuk berkibar
Indonesia raya menderu dinyanyikan
Inilah Indonesiaku
Saat pejuang tak ada lagi raganya
Disitu kita memperingatinya
Karena kami ikut berduka
Karena kami merasakannya
Perjuanganmu tak kan sia- sia
Kami janji kan melanjutkannya
Merdeka,
Tetap merdeka
(Gigih W.W)

• Maju
Kata yang pantas diteriakkan
Tak hanya sekadar diucapkan
Saat raga ini bangkit
Berdiri menghadang musuh
Doooor….!
Bunyi senjata yang tak kau andalkan
Karena dengan bamboo kau menang
Hidup pahlawanku
Semangatmu yang membara
Kini hasilnya kami terima
Terima kasih
Pahlawanku
Terima kasih
Pejuangku
(Gigih W.W)

b) Puisi Dramatis
•Balada Terbunuhnya Atmo Karpo
Dengan kuku-kuku besi
Kuda merebah perut bumi
Bulan berhianat gosok-gosok tubuhnya
Dipuruk-puruk para mengepit kuat-kuat
Lutut penunggang
Perampok yang diburu
Surai keringat basah
Jerawi pun telanjang
Segenap wargadesa
Mengepung hutan itu dalam satu pusaran
Pulang balik Atmo Karpo
Mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang
Berpancar bunga api
Anak panah dibahu kiri
Satu demi satu yang maju tersayap darahnya
Penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka
“Nyawamu barang pusar, hai orang-orang bebal !
Tombakmu puncuk daun dan matiku jauh
Orang papa
Majulah Joko Pondan ! Dimana Ia !
Majulah Ia kerna padanya seorang
Kekandang dosa
Anak panah empat arah dan musuh tiga silang
Atmo Karpo masih tegak, luka tusuk ilang
“Joko Pondan ! Dimana Ia !
Hanya padanya seorang kekandung dosa
Bedah perutnya tapi masih setan
Menggertak kuda,
Ditiap ayun menungging kepala
“Joko Pondan ! Dimani Ia !
Hanya padanya seorang kekandung dosa
Berberita ringkik kuda
Muncullah Joko Pondan segala menyibak,
Bagi derapnya kuda hitam ridia dada,
Bagi derunya dendam yang tiba
Pada langkah pertama keduanya sama baju
Pada langkah ketiga Atmo Karpo
Panas luka-luka,
Terbuka daging kelopak-kelopak angsaka
Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka
Pesta bulan, sorak-sorak, anggur darah
Joko Pandong menegak,
Menjilat darah dipedang
Ia telah membunuh bapaknya
(WS. Rendra)

• Saat itu
Saat ku berpamit pergi
“Ibu, ananda berangkat”
Lirihku pada ibu
Kupeluk dan kucium ibu
“ Iya saying”
Jawaban singkat yang kudapat
“ Jaga dirimu”
Terdengar pesan disela isak
Ku tak dapat menahan
Aku tak tahan
“Huaaaaaaaaaaaaaa…”
Ku berteriak menangis
Dengan beban ku pergi
Dibalik senyum ku sembunyi
Kulambaikan tangan
“ Ku kan kembali”
Teriakku
(Gigih W.W)


• Pada-Mu
Saat ku bercakap dengan-Mu
Disepertiga malam itu
Ku menyapa-Mu
“ Aku kini berlumur dosa”
Kulanjutkan kalimatku
“ Ku merasa tak berdaya”
“Ku lemah dihadapan-Mu”
“Tapi ku berani meminta pada-Mu”
Terhenti sejenak uraian kalimatku
Kututup telapk tanganku
Kubersujud beberapa waktu
Dan terakhir kuucap
“Amin”
Sesaat setelah ku bangun kembali
(Gigih W.W)

c) Puisi Lirik
•Dengan Puisi, Aku
Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi pun aku bercinta
Berbatas car wula
Dengan puisi aku mengarang
Keabadian yang akan datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutak
Nakas jaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya
(Taufik Ismail)

•Saat pertama kali kulihat
Sapa lembut senyummu
Membuatku tertegun dan melayu
Ku bermimpi ingin mengenalmu
Memilikimu

Tuhan tolonglah daku
Perkenankan dia untukku
Dengan dirinya yang kaku
Membutku sadar akan kebesaran-Mu

Oh tuhan
Kumemikirkannya
Kumenginginkannya
Bersama
Salamanya
Bersama diriku
(Gigih W.W)

• Ku tahu
Apa yang ku mau
Tuk mendapatkanmu
Merindu dirimu nan jauh disitu

Saat kudengar
Namamu disebut
Hati rindu pelukmu
Kasih dan sayang yang kau berikan
Ku kenang selalu

Bundaku,
Kukini sendiri
Mengarungi hidup tanpamu
Karena diriku disini merantau
Demi kebanggaanmu
Bundaku,

Bunda kumohon
Bekal doanmu
Untuk mengiringi langkahku
Demi senyum indahmu
Bundaku,
(Gigih W.W)

5. PUISI IDE DAN LANSKAP
a) Puisi Ide
• AKU
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorangpun
Tidak juga aku
Tak perlu seyu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulan terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap menghadang menerjang
Luka dan bias ku bawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
(Chairil Anwar)

• Tangis
Bukan melambangkan sedih
Tawa
Tak selamanya bermakna bahagia
Janji
Tak sepenuhnya terpenuhi
Bahagia
Selamanya melawan derita
Kata
Pasti menyusun frase
Tanya
Kini mulai bermakna
Jawab
Tak dapat lagi dipercaya
Karena tetap ada yang berkuasa
(Gigih W.W)

•Jika waktu tak lagi disini
Ku kan menanti sampai kembali
Kulakukan tanpa lelah diri
Walau kau tatap aku
Dengan peasaan ibamu

Jika waktu tak tetap disini
Kuputar ku rotasi
Walau tak ada daya
Meraih dan terus meraih
Dengan semangat pemberiaanmu
(Gigih W.W)

b) Puisi Lanskap
• Tanah Kelahiran
Seruling dipasir tipis, merdu
Antara gundukan pohon pina
Tembang menggema didua kaki
Burangrang-Tangkuban Perahu Jamrut dipucuk-pucuk
Jamrut diair tipis menurun membelit tungga ditahah merdu
Dikenal gadis-gadis dari bukit
Nyanyian kentong sudah digali
Kenakan kebaya ke pewayangan jamrut dipucuk-pucuk
Jamrut dihati gadis menurun
(Ramadhan K.H)

• Daratan Laut
Debur omrbak selalu menghampirimu
Beribu bakau melindungimu
Bayak orang berkunjung ke ragamu
Menikmati keindahan hiasanmu

Saat pagi mentari pertama berkunjung
Kembali lagi saat sore hari
Kapal- kapal setia menemani
Meramaikanmu dengan lampu malam

Pasir putih dan hitam bersebaran
Diparasmu yang sungguh lebar
Walau terinjak tetap tak layu
Sampai karang bicara padamu
(Gigih W.W)

• Selain Kota
Hijau luas ku lihat selalu
Sesawahan yang kau miliki itu
Tatanan padi yang lucu
Lucu lucu menyegarkan mata buramku

Rumah rumah kayu dan bambu
Mengakar inilah alamku
Pekarangan yang luas
Berselimut rumput bukan bata
Pepohonan tak lupa mengayomi
Mengeluarkan oksigen buat diri
Suara burung dan jangkrik
Masih terdengar asli tanpa manipulasi
Apalagi adaptasi
Oh segarnya desamu ini
Yang mungkin jarang tuk kutemui
(Gigih W.W)