kukreat

Loading...

Jumat, 17 Desember 2010

makalah menyimak

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk individu dan makhluk social yang tidak bisa terlepas dari manusia lainnya. Dalam kehidupan semacam inilah terjadi interaksi dan komunikasi baik dengan alam lingkungan dengan sesamanya maupun dengan Tuhannya.
Dalam proses interaksi dan komunikasi diperlukan keterampilan berbahasa aktif, kreatif, produktif dan apresiatif yang mana salah satu unsurnya adalah keterampilan menyimak yang bertujuan untuk menangkap dan memahami pesan ide serta gagasan yang terdapat pada materi atau bahasa simakan.
Menyimak merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Setiap hari kita mendengar orang berbicara, baik langsung maupun melalui media elektronik. Dalam pengertian sempit berarti kita melakukan kegiatan menyimak yang mengacu pada proses mental pendengar menerima rangsang bunyi dari pembicara, kemudian menyusun penafsirannya. Dalam pengertian yang lebih luas, penyimak tidak hanya mengerti dan membuat penafsiran tentang pesan/materi yang disimaknya, lebih dari itu ia berusaha melakukan isi pesan yang disimaknya.
Meskipun menyimak itu penting dalam kehidupan sehari-hari, tetapi kurang mendapat perhatian di sekolah-sekolah di negara kita, bahkan di negara-negara yang telah maju. Penelitian yang telah dilakukan oleh Paul T. Rankin (1929 dalam Tarigan, 1980) terhadap 68 orang dari berbagai pekerjaan dan jabatan di Detroit sampai pada suatu kesimpulan bahwa mereka mempergunakan waktu untuk berkomunikasi: 9% menulis, 16% membaca, 30% berbicara, dan 45% menyimak. Pada waktu yang berbeda, Water Loban (dalam Tompkins & Kenneth, 1991) dalam penelitiannya terhadap anak-anak dan orang dewasa menyimpulkan adanya perbandingan bahwa mereka setiap hari menyimak satu buku, berbicara satu buku satu tahun, membaca satu buku satu bulan, dan menulis satu buku dalam satu tahun.
Untuk itu perlu dikembangangkan keterampilan dalam menyimak agar kemampuan menyimak seseorang baik dan ideal. Kegiatan menyimak beragam macamnya dan berbeda- beda tujuannya. Kita tidak bisa hanya menerapkan satu teori atau strategi saja untuk berbagai macam kegiatan menyimak yang mana tampilan atau gaya penyampaiannya juga bermacam- macam. Untuk bisa menjadi penyimak yang baik, kita harus tahu tujuan kita dalam menyimak dan macam- macam strategi dalam beragam kegiatan menyimak.

2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut :
a. Kategori menyimak berdasarkan maksud dan tujuan.
b. Ragam menyimak.
c. Faktor yang mempengaruhi proses menyimak.
d. Contoh kegiatan menyimak dan strateginya.
3. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
a. Menjelaskan kategori menyimak berdasarkan maksud dan tujuan.
b. Menjelaskan ragam menyimak.
c. Menjelaskan yang mempengaruhi proses menyimak.
d. Menunjukkan contoh kegiatan menyimak dan strateginya.










BAB II
PEMBAHASAN

A. Kategori Menyimak Berdasarkan Maksud dan Tujuan

Hakikat menyimak adalah menerima informasi dari pembicara dan menyusun atau menafsirkan maksud yang terkandung dalam bahan simakan serta mengapresiasikannya. Menyimak bisa dikategorikan berdasarkan maksud dan tujuannya.
Ruth G. Strickland mengemukakan 9 tahapan menyimak berdasarkan pengamatannya terhadap para siswa sekolah dasar dan Anderson (1972 dalam Tarigan, 1980:29) mewujudkannya sebagai kategori penyimak berdasarkan maksud dan tujuan, yaitu :
1. Menyimak berkala, terjadi pada saat penyimak merasakan keterlibatan langsung dalam pembicaraan mengenai dirinya.
2. Menyimak dengan perhatian dangkal, terjadi pada saat penyimak mendapat gangguan/selingan-selingan perhatian terhadap hal-hal di luar pembicaraan.
3. Setengah menyimak, terjadi pada saat penyimak terganggu oleh kegiatan menunggu kesempatan atau mengekpresikan isi hati, mengutarakan apa yang terpendam di dalam hatinya.
4. Menyimak serapan, terjadi karena penyimak asyik menyerap atau memperhatikan ha-hal yang kurang penting.
5. Menyimak sekali-sekali, terjadi karena penyimak hanya memperhatikan dan menyimpan perkataan pembicara yang menarik hatinya saja.
6. Menyimak asosiatif, terjadi karena penyimak hanya mengingat pengalaman-pengalaman pribadi secara konstan yang mengakibatkan ia tidak memberikan reaksi terhadap pesan yang disampaikan pembicara.
7. Menyimak dengan reaksi berkala, terhadap pembicara dengan memberi komentar ataupun mengajukan pertanyaan.
8. Menyimak secara saksama, dengan sungguh-sungguh mengikuti jalan pikiran pembicara.
9. Menyimak secara aktif, untuk mendapatkan dan menemukan pikiran, pendapat, dan gagasan pembicara.

Perbedaan tahap-tahap menyimak itu mencerminkan perbedaan tingkat keterlibatan seseorang terhadap isi pembicaraan seorang pembicara.Semakin seseorang terlibat jauh dalam proses menyimak maka semakin besar pula bahan simakan yang didapat dan semakin besar konsentrasi seseorang dalam menyimak maka pemahaman terhadap bahan simakan juga semakin jelas.

B. Ragam Menyimak
Tujuan menyimak adalah memperoleh informasi, menangkap isi, dan memahami makna komunikasi yang hendak disampaikan oleh pembicara melalui ujaran. Tujuan itu menyebabkan adanya aneka ragam menyimak. Para ahli komunikasi (dalam Tompkins & Kenneth, 1991:109) memetakan 5 tujuan menyimak yang lebih khusus, yaitu :
1. Menyimak diskriminatif,
Menyimak diskriminatif dilakukan untuk menyimak suara-suara yang berbeda dan mengembangkan daya sensitif dalam komunikasi nonverbal, seperti menyimak suara binatang pada anak-anak di playgroup atau taman kanak-kanak.
2. Menyimak komprehensif,
Menyimak komprehensif dilakukan untuk memahami pesan yang sampaikan oleh pembicara. Ini merupakan menyimak umum secara intensif. Bahkan, menyimak komprehensif merupakan menyimak yang utama dikembangkan di sekolah-sekolah, selain menyimak kritis dan menyimak apresiatif
3. Menyimak kritis,
Menyimak kritis adalah menyimak untuk mengevaluasi pesan yang merupakan kelanjutan menyimak komprehensif
4. Menyimak apresiatif,
Menyimak apresiatif adalah menyimak pembicaraan atau pembacaan untuk mendapat kenikmatan.
5. Menyimak terapeutik.
Menyimak terapeutik adalah menyimak untuk memperbaiki suatu masalah,
Selain itu, Nurhadi (1995:339) mengemukakan ragam menyimak yang lebih utama dikembangkan di sekolah, yaitu:
1. Menyimak hati-hati atau careful listening, yaitu kemampuan memperhatikan ide-ide utama yang disampaikan oleh pembicara
2. Menyimak kritis atau critical listening, yaitu mempertanyakan menguji kebenaran apa yang disimak, untuk kemudian penyimak menolak atau menerima ide yang didengarnya;
3. Menyimak perseptif atau perseptive listening, yaitu menyadari dan memahami apa yang dikatakan pembicara, meskipun tidak jelas apa yang disampaikannya;
4. Menyimak kreatif atau creative listening, yaitu menggunakan pemikiran, menilai apa yang disimak, dan membuat kreasi terhadap hasil simakan. Misalnya memberi kritik dan saran, mengulas, atau mengomentari melalui media massa.
Keempat ragam menyimak tersebut dikemukakan dengan maksud untuk kepentingan pembelajar/siswa mengetahui tingkatan kemampuan menyimaknya sehingga ketika mereka menjadi pendengar, mereka akan menjadi pendengar yang kritis. Penyimak yang kritis akan mampu menangkap dan memahami simakan dengan sempurna. Dengan demikian penyimak akan mampu mengembangkan hasil simakannya tersebut dan membandingkannya dengan hal lain yang terkait.


C. Faktor yang Mempengaruhi Proses Menyimak

Dalam proses menyimak kita juga dipengruhi oleh factor- factor. Factor- factor itulah yang menunjang baik tidaknya kemampuan menyimak kita. Faktor-faktor yang turut mempengaruhi proses menyimak dan perlu diperhatikan dalam menyajikan materi menyimak sehingga proses menyimak berhasil dengan baik, yaitu:
1. Kejelasan pesan dari pembicara;
2. Bahasa yang digunakan
3. Alat dengar penyimak;
4. Suasana kejiwaan pembicara dan penyimak;
5. Gangguan dari luar, seperti kebisingan dan keributan.
Selain hal diatas, ada beberapa hal yang disarankan untuk menunjang keberhasilan pembelajaran menyimak dan menyimak dalam pembelajaran lainnya, yaitu:
1. Tujuan menyimak;
2. Kecepatan menyajikannya;
3. Tingkat kesulitan bahasa sesuai dengan tingkat kemampuan berbahasa siswa;
4. Topik harus sesuai dengan minat siswa;
5. Topik menyimak harus berganti-ganti.

D. Contoh Kegiatan Menyimak dan Strateginya
Dalam proses pembelajaran menyimak terdapat standar kompetensi tertentu yang digunakan sebagai acuan dalam pembelajaran. Oleh karena itu peserta didik diharapkan bisa menguasai apa yang ditargetkan. Agar dapat menguasai bahan simakan tersebut penyimak harus mempunyai strategi dalam menyimak. Kita ketahui bahan simakan itu berbagai macam jenisnya sehingga strategi yang kita gunakan juga harus berbeda guna mempermudah pemahaman kita terhadap apa yang disampaikan. Dengan begitu meraka nantinya dapat menjadi penyimak yang baik. Ada beberapa contoh kegiatan menyimak sesuai dengan macam penyajiannya dan strateginya dalam menyimak.
1. Menyimak Berita (dari radio/ televisi)
Menyimak berita adalah jenis menyimak intensif yang diarahkan pada kegiatan yang diawasi dan dikontrol terhadap suatu hal tertentu. Tujuan menyimak berita adalah:
a. Menemukan pokok-pokok berita (apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana) yang didengar/disimak melalui radio/televise
b. Menyimpulkan isi berita yang dibacakan oleh pembaca berita
c. Mengemukakan kembali berita yang didengar/disimak melalui radio/televisi.
Menyimak berita dengan tujuan tersebut termasuk jenis menyimak komprehensif. Penyimak hendaknya mengetahui apa pesan yang sebenarnya hendak disimak.
Cara menemukan pokok-pokok berita, di antaranya:
a. Mengidentifikasi berita-berita utama dari berita-berita yang dibacakan. Untuk mengidentifikasi berita utama dari seluruh berita yang dibacakan, penyimak harus tahu atau tanggap pada posisi mana si pembaca berita meletakkan penekanan atau berita utama. Umumnya, berita utama diletakkan setelah pendahuluan alinea, dinyatakan secara singkat, diulas kembali di sepanjang berita (biasanya pembaca berita mengulang- ulang konsep penting), kemudian dinyatakan kembali dalam kesimpulan (penutup). Berita utama juga dapat diidentifikasi dari perubahan perilaku non-verbal pembaca berita ketika membacakan berita utama, misalnya perubahan volume suara, jeda pembacaan, mimik, pandangan mata, dan petunjuk-petunjuk non-verbal lainnya.
b. Menggunakan kata tanya 5W 1H untuk melacak kelengkapan isi berita. Kata tanya 5W 1H (who, what, when, where, why, dan how = siapa, apa, kapan, di mana, mengapa, bagaimana) dapat membantu melacak kelengkapan isi berita. Selain itu, kata itu dapat membatasi/memfokuskan perhatian penyimak agar tidak terlalu meluas atau menyempit. Dengan cara tersebut, pokok-pokok berita dapat ditemukan dengan efektif oleh penyimak berita. Kemampuan lain yang perlu dimiliki olah penyimak berita (komprehensif) adalah menyimpulkan isi berita yang didengar/disimak. Kesimpulan adalah data yang tidak disampaikan dalam berita, tetapi hanya diimplikasikan saja. Kesimpulan adalah hasil penafsiran murni dari penyimak terhadap berita yang didengarnya. Karena itu, penyimak berita yang baik harus dapat menyimak gagasan utama maupun rinciannya secara eksplisit maupun implisit. Mengemukakan kembali isi berita yang didengar/disimak dari radio atau televisi merupakan salah satu cara untuk mengetahui apakah penyimak telah menyimak dengan efektif dan komprehensif atau tidak. Catatan garis besar dengan 5W 1H dapat membantu penyimak mengungkapkan kembali isi berita yang didengar/disimak secara sistematis.

2. Menyimak wawancara
Menyimak wawancara termasuk salah satu jenis menyimak pemahaman/ komprehensif (comprehensive listening), yaitu menyimak untuk memahami isi pesan yang disampaikan para tokoh atau narasumber dalam sebuah wawancara. Tujuan menyimak wawancara adalah:
a. Menyimpulkan pikiran, pendapat, dan gagasan seorang tokoh/narasumber yang disampaikan dalam wawancara;
b. Menulis dengan singkat hal-hal penting yang dikemukakan nara sumber dalam wawancara.
Strategi yang dapat digunakan dalam menyimak wawancara kepada tokoh atau narasumber, antara lain: menggambar dalam pikiran (membayangkan), mengelompokkan informasi, mengajukan pertanyaan, membuat skema, mencatat isi pembicaraan, dan memperhatikan perilaku nonverbal pembicara.
Strategi 1: Menggambar dalam pikiran (membayangkan)
Penyimak/siswa dapat menggambar secara mental informasi yang disimak untuk membantu ingatannya. Strategi ini terutama digunakan ketika wawancara tentang gambaran suatu objek tempo dulu yang memerlukan gambaran yang lengkap dan terperinci atau deskripsi suatu benda/kata, misalnya gubernur masa depan sehingga penyimak dapat ‘santai’ dalam wawancara. Gambar yang dibuat bergantung pada kreativitas penyimak.
Strategi 2: Mengelompokkan informasi.
Penyimak/siswa dapat mengelompokan pesan/informasi yang ditangkap menjadi sebuah kelompok-kelompok (cluster) ketika pesan berisi beberapa informasi, pembandingan, atau perlawanan. Misalnya, wawancara perbedaan binatang reptil dan amphibi. Penyimak/siswa menyiapkan dua kolom pada catatan. Satu kolom dituliskan reptil dan kolom lainnya dituliskan amphibi. Kemudian penyimak mencatat informasi/hal-hal yang penting dari wawancara kepada tokoh/narasumber tentang perbedaan dua binatang itu pada kolom-kolom yang telah disiapkan. Akhirnya, penyimak dapat menyimpulkan pikiran, pendapat, atau gagasan tokoh/narasumber tentang kedua binatang itu.
Strategi 3: Mengajukan pertanyaan
Penyimak/siswa dapat mengajukan pertanyaan untuk meningkatkan pemahamannya terhadap pesan pembicara. Dua tipe pertanyaan yang sangat membantu penyimak adalah pertanyaan yang ditujukan kepada pembicara untuk mengklarifikasi dan pertanyaan ditujukan kepada diri sendiri untuk memonitor penyimakan dan pemahamannya. Umumnya pertanyaan ditujukan kepada pembicara. Namun, perlu dikembangkan pertanyaan untuk diri sendiri, seperti berikut.
Mengapa saya bertanya tentang itu?
Apakah saya bisa memahami maksud pesan itu?
Untuk apa informasi itu bagi saya?
Strategi 4: Membuat skema.
Pembicara umumnya menggunakan tipe yang sama untuk mengorganisasikan struktur sebuah pesan, yaitu deskripsi (description), urutan (sequence), pembandingan (comparison), sebab-akibat (cause and effect), dan masalah dan solusi (problem and solution)
Strategi 5: Catatan isi pembicaraan.
Penyimak/siswa mencatat hal-hal penting yang dikemukakan tokoh/narasumber dalam wawancara atau “responding-with-pen-in-hand”. Strategi ini membantu dalam menyimak, terutama penyimak pemula.
Strategi 6: Memperhatikan gerak-gerik/non-verbal pembicara.
Pembicara selalu menggunakan petunjuk verbal dan nonverbal. Petunjuk non-verbal/visual, seperti gestur/gerak anggota tubuh, penekanan (suara), jeda, menulis atau menggarisbawahi hal-hal yang penting, dan perubahan mimik saat berbicara. Penyimak yang baik memperhatikan petunjuk non-verbal itu sehingga dapat menemukan ha-hal yang penting dan menyimpulkan pendapat atau pikiran pembicara.
3. Menyimak Dialog Interaktif
Menyimak dialog interaktif adalah menyimak percakapan dari berbagai arah. Pembicara dalam dialog itu lebih dari dua orang. Para pembicara berbicara mengikuti aturan secara berganti-ganti yang diatur oleh seorang pemandu atau moderator. Tujuan menyimak dialog interaktif adalah:
a. Menyimpulkan isi dialog interaktif beberapa nara sumber pada tayangan televisi/siaran radio;
b. Mengomentari pendapat narasumber dalam dialog intaraktif pada tayangan televisi/siaran radio.
Untuk dapat menyimpulkan isi dialog beberapa narasumber, penyimak melakukan menyimak pemahaman dengan strategi seperti dalam menyimak wawancara. Kemudian penyimak menyimak kritis untuk dapat mengomentari pendapat nara sumber dalam dialog.
Menyimak kritis yaitu menyimak untuk mengevaluasi atau menemukan kekurangan, kesalahan atau kekeliruan atau butir-butir pesan yang tidak baik dan benar dari pembicara. Menyimak kritis dilakukan ketika seseorang menyimak debat, iklan komersial, pernyataan- pernyataan politis, pernyataan-pernyataan filosofis, dan argumen-argumen yang lain. Kegiatan-kegiatan yang tercakup dalam menyimak kritis adalah:
1. Memperhatikan bahasa yang digunakan oleh pembicara, seperti pilihan kata, pemakaian kata, unsur-unsur kalimat, dan kalimat efektif
2. Menentukan alasan ‘mengapa’
3. Mengenal dan menentukan pengaruh-pengaruh berbagai alat yang mungkin dipakai oleh pembicara untuk mempengaruhi penyimak, misalnya: (a) musik, (b) sarat kata-kata yang tidak penting, (c) intonasi suara, (d) permainan isue emosional dan kontroversial, serta (e) propaganda;
4. Membedakan fakta dari fantasi/khayalan menurut kriteria tertentu;
5. Membedakan pernyataan-pernyataan yang didukung dengan bukti-bukti yang tepat dari opini dan pendapat dan mengevaluasinya;
6. Memeriksa, membandingkan, mengkontraskan gagasan dan menyimpulkan pembicaraan, misalnya mengenai ketepatan dan kesesuaian suatu deskripsi
7. Menemukan jawaban bagi masalah tertentu;
8. Menentukan informasi baru/informasi tambahan untuk suatu topik;
9. Menafsirkan, mengintepretasi ungkapan, idiom, dan bahasa yang belum lazim dipakai; kata atau frasa yang halus untuk menyamarkan keadaan nyatanya (eufemisme), jargon untuk kelompok tertentu.
10. Bertindak objektif dan evaluatif untuk menentukan keaslian, kebenaran, atau adanya prasangka, kecerobohan, kekurangtelitian, dan kekeliruan (Anderson dalam Tarigan, 1980:43; Tompkins & Kenneth, 1991:120-123).
4. Menyimak Laporan
Menyimak laporan dilakukan dengan menyimak komprehensif dan menyimak kritis. Menyimak komprehensif dilakukan untuk memahami informasi/pesan/isi laporan yang diujarkan oleh pembicara atau reporter. Kemudian dilakukan menyimak kritis untuk menganalisis isi laporan dan menanggapi isinya.
Tujuan menyimak laporan adalah:
a. Menganalisis isi laporan
b. Menanggapi isinya.
Laporan yang menjadi bahan simakan dapat berupa laporan resmi (official reports) atau laporan khusus (special reports). Laporan resmi dapat diterima dan disetujui oleh pihak yang dilapori setelah tidak ada keberatan-keberatan yang timbul. Adapun laporan khusus tidak memerlukan prosedur pengajuan keberatan dan persetujuan. Karena itu, penyimak laporan resmi perlu menyimak kritis untuk dapat mengajukan kebertan dan persetujuan.
Strategi menyimak laporan dapat menggunakan strategi menyimak wawancara/ komprehensif untuk memahami isi laporan dan menyimak dialog interaktif/menyimak kritis untuk menganalisis dan menanggapi isinya.
5. Menyimak Isi Pidato/ Khotbah/ Ceramah
Berpidato, berkhotbah, dan berceramah merupakan keterampilan berbicara bebas. Teks pidato, khotbah, dan ceramah sebagai wahana penuangan ide gagasan hendaknya telah diolah melalui berpikir kritis dan sistematis sehingga diharapkan mengandung kebenaran yang tidak hanya berdasarkan rasio, tetapi juga dapat dibuktikan secara empirik. Berpidato, berkhotbah, dan berceramah hendanya menggunakan bahasa formal atau resmi sesuai dengan kaidahnya sehingga penyimak dapat memahami pesan yang disampaikan. Berdasarkan hal itu, menyimak isi pidato, khotbah, dan ceramah memerlukan keterampilan menyimak komprehensif untuk dapat memahami isi pesan dan menyimpulkannya. Selain itu, penyimak perlu menyimak kritis agar dapat mengomentari isi pidato dan ceramah yang disimak.
Tujuan menyimak isi pidato, khotbah, dan ceramah yaitu:
a. Menyimpulkan pesan pidato/khotbah/ceramah yang didengar;
b. Mengomentari isi pidato/khotbah/ceramah.
Menyimak isi pidato, khotbah, dan ceramah dapat menggunakan strategi menyimak komprehensif seperti yang digunakan dalam menyimak wawancara untuk dapat memahami dan menyimpulkan isinya. Untuk dapat mengomentari isi, penyimak dapat menggunakan strategi menyimak kritis seperti yang digunakan pada menyimak wawancara. Lebih dari itu, seorang penyimak yang kritis oleh Ahmadi (1990:17) disarankan dapat:
a. Mengevaluasi kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh pembicara, seperti (1) kontradisksi diri sendiri, (2) generalisasi yang tergesa-gesa, (3) analogi yang salah, dan (4) gagal dalam menyajikan contoh;
b. Mengevaluasi niat dan tujuan pembicara dengan secara implisit mengajukan pertanyaan: (1) siapakah yang berkata itu, (2) mengapa ia berkata demikian, (3) apa tujuannya, dan (4) apakah kewenangannya berkata begitu?
Berbagai jenis keterampilan menyimak yang meliputi menyimak wacana berita, menyimak wawancara, menyimak dialog interaktif, meyimak laporan, dan meyimak isi pidato, khotbah, ceramah dari media elektronik radio atau televisi merupakan ragam menyimak komprehensif dan menyimak kritis. Keduanya merupakan keterampilan menyimak yang penting dan bermakna bagi siswa dalam pembelajaran di sekolah maupun di masyarakat.
























BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan :
• Menyimak dapat dikategorikan berdasarkan maksud dan tujuan, antara lain : menyimak berkala, menyimak dangkal, setengah menyimak, menyimak serapan, menyimak asosiatif, dan lain- lain.
• Kegiatan menyimak juga beragam, yaitu: menyimak diskriminatif, menyimak komprehensif, menyimak kritis, menyimak apresiatif, dan menyimak terapeutik.
• Menyimak dipengaruhi oleh faktor- factor yaitu factor dari pembicara, bahan simakan, dan lingkungan.
• Macam kegiatan menyimak yaitu menyimak berita (dari radio/ televisi), menyimak wawancara, menyimak dialog interaktif, menyimak laporan, dan menyimak isi pidato/ khotbah/ ceramah.
B. Saran
• Dalam menyimak kita harus mempunyai maksud dan tujuan kita menyimak karena kegiatan menyimak itu bermacam- macam.
• Saat kita melakukan kegiatan menyimak, kita harus memperhatikan factor- factor dalam menyimak.
• Kita harus memperhatikan penyampaiaan seperti apa yang digunakan oleh pembicara dalam menyimak sehingga kita tahu strategi yang harus kita gunakan.




BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi,Mukhsin.1990.Strategi Belajar-Mengajar Keterampilan Berbahasa dan
Apresiasi Sastra. Malang: Y A 3.
Tarigan,Henry Guntur.1980. Menyimak sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.
Bandung:Angkasa.
Tompkins, Gail E. & Kenneth Hoskisson. 1991. Language Art, Content and
Teaching Strategies.New York:Macmillan.
Nurhadi. 1995. Tata Bahasa Pendidikan, Landasan Penyusunan Buku Pelajaran
Bahasa.Semarang:IKIP Semarang Press.











KETERAMPILAN MENYIMAK

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata kuliah Menyimak
Dosen pengampu: Ibu Deby Luriawati N.

Oleh :
Nama : Gigih Wahyu Wijayanti
NIM : 2101410057
Prodi : PBSI
ROMBEL 2

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2010
KATA PENGANTAR

Alhamdulilah puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena rahmat dan hidayah-NYA karya sederhana tentang keterampilan menyimak ini terselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Karya yang berjudul Keterampilan Menyimak ini disusun untuk memenuhi tugas semester satu tahun ajaran 2010 mata kuliah Menyimak.
Keseluruhan isi dari karya ini menyajikan materi- materi pembelanjaran tentang menyimak. Setiap pokok bahasan dalam karya ini, penyusun tujukan kepada Ibu Deby sebagai dosen Pengampu mata kuliah Menyimak dan untuk para pembaca semoga bermanfaat untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.
Pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada Ibu Deby selaku dosen pengampu yang telah memberi kepercayaan kepada penyusun untuk menyelesaikan tugas ini. Begitu pula berbagai pihak yang membantu kelancaran terselesaikannya tugas ini.
Permohonan maaf penyusun sampaikan jika dari isi karya ini ada yang tidak sesuai atau tidak berkenan bagi pembaca. Penyusun berharap karya ini bermanfaat bagi pembaca.
Terima Kasih.


Semarang, November 2010

Penyusun

1 komentar: